PERKAWINAN ADALAH “SESUATU” YANG SERIUS

Perkawinan adalah sesuatu yang sangat serius. Oleh karena itu sebuah perkawinan seharusnya :

  1. Dipersiapkan secara serius

Sebelum menikah sebaiknya seseorang mengenali dengan benar siapa calon pasangannya. Jangan sampai tertipu oleh penampilan memikat yang dibuat-buat.

Sebaiknya sebelum menikah pasangan calon pengantin mengikuti kelas konseling pra nikah untuk memantapkan langkahnya menuju jenjang perkawinan.

Seorang hakim di Chattanooga, Tennessee (Amerika), yang menangani lebih dari dua puluh lima ribu perceraian di sepanjang karirnya, menyatakan bahwa lebih dari 40 persen dari mereka yang bercerai adalah akibat dari pernikahan tergesa-gesa, dimana pasangan itu secara fisik dan mental belum dewasa

2.Dipertahankan dengan serius

Karena perkawinan itu adalah hal yang sangat serius maka sebaiknya dijaga dan dipertahankan sekuat tenaga.

Jangan seperti kebiasaan para artis/selebrity yang suka kawin cerai seenaknya. Bertukar pasangan seperti tukar baju saja!

Sekarang saya akan mengajak Anda melihat keseriusan sebuah perkawinan. Menimba inspirasi dari alkitab, kita bisa melihat betapa Abraham sangat serius mempersiapkan calon pasangan Ishak. Kita lihat beberapa prinsipnya.

 

  1. Perkawinan adalah urusan yang serius karena banyak orang yang terlibat di dalamnya – Kej.24:2-3

Ketika sepasang kekasih menikah, maka yang ikut repot dan terlibat aktif dalam pernikahan tersebut, bukan hanya ke dua orang itu saja. Tetapi ada banyak pihak yang ikut terlibat aktif dalam hajatan itu. Mereka yang ikut terlibat adalah :

a. Orang Tua ke dua pasangan

Mau tidak mau orang tua ke dua pasangan pasti akan turut repot ketika anak-anaknya menikah. Bukan hanya repot secara fisik (mengikuti resepsi pernikahan), tetapi mungkin juga secara finansial (membantu biaya nikah).

b.Masyarakat di sekitar

Meski tidak diminta sekalipun masyarakat disekitar rumah pasangan pasti akan ikut repot dan terlibat. Minimal mereka akan menjadi saksi tentang perkawinan itu.

c. Keluarga

Keluarga besar ke dua pasangan juga akan ikut repot. Mulai dari lamaran sampai acara pernikahannya mereka akan terus terlibat.

d. Gereja

Gereja sangat terlibat dalam sebuah perkawinan. Mulai dari konseling pra nikah sampai acara pemberkatan, geraja sangat berperan aktif!

Nah, melihat begitu luasnya kalangan yang terlibat dalam sebuah pernikahan, maka kita bisa tegaskan bahwa pernikahan adalah sesuatu yang serius!

  1. Perkawinan merupakan urusan yang serius karena ada kewajiban berat terlibat dalam hubungan perkawinan

Artinya, kelanggengan pernikahan harus diprioritaskan di atas segala urusan yang lain. Suami/istri punya kewajiban untuk menjaga agar perkawinan tetap utuh sampai maut memisahkan mereka.

Ada beberapa hal/urusan yang bisa menyebabkan kegagalan perkawinan :

  1. Hoby yang keterlaluan

Memiliki hoby itu tidak salah bahkan sering kali menjadi baik untuk mengisi waktu senggang. Tapi kalau hoby itu kemudian membuat kita sampai melalaikan pasangan dan anak-anak kita, ini sudah tidak benar.

Tanpa kita sadari, hal itu bisa berujung pada pertengkaran dengan istri/suami dan bisa membahayakan perkawinan kita.

 

  1. Gila kerja (Workaholic)

Bekerja itu baik bahkan harus, tapi kalau kita terlalu mencurahkan waktu dan tenaga kita untuk bekerja, sampai menelantarkan anak/suami/istri kita, maka itu sudah tidak benar! Itu bisa menjadi penyebab keruntuhan perkawinan!

 

  1. Perkawinan merupakan urusan yang serius karena kalau gagal akan membuat penderitaan banyak pihak

Perkawinan yang sukses dan bahagia adalah berkat terbesar dalam hidup ini. Sebaliknya perkawinan yang gagal merupakan kemalangan terbesar dalam hidup ini.

Ketika sebuah pernikahan gagal maka ada beberapa pihak yang akan ikut merasakan pedihnya kegagalan itu :

  1. Orang tua masing-masing pasangan

Tentu ada rasa malu, rasa bersalah, rasa gagal, ketika melihat anak-anak yang disayanginya gagal membina rumah tangga yang baik.

Orang tua bisa merasa sangat tertekan dalam hal ini karena merasa ikut bertanggung jawab ketika merestui kedua anaknya menikah dulu!

  1. Anak-anak

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak-anak merupakan pihak yang paling dirugikan dalam sebuah perceraian. Anak-anak yang nakal dan menjadi biang kerok biasanya berasal dari kelarga yang broken home (berantakan).

  1. Kedua pasangan yang bercerai

Bagaimanapun juga mereka yang bercerai pasti tetap akan ikut merasakan pedihnya perceraian itu. Mereka mungkin akan mengalami trauma, malu, sedih dan depresi!


4.Perkawinan adalah sesuatu yang serius oleh sebab itu Tuhan memberikan sejumlah prinsip untuk memastikan keberhasilannya

Ada beberapa prinsip penting yang di berikan Tuhan untuk sebuah pernikahan yang berhasil :

a. Monogami – kesatuan perkawinan.

Ini adalah rencana ilahi yang menginginkan satu laki-laki dengan satu perempuan bersatu sebagai suami dan istri (Kej 2:18, 22-23).

b. Fidelity – kesetiaan perkawinan.

Allah menghendaki agar sepasang suami istri setia satu dengan yang lainya, untuk selama-lamanya. (Matius 19:4-5). Tidak boleh ada WIL atau PIL!

c. Permanency – keabadian. Sifat kekal perkawinan.

Allah menginginkan sebuah perkawinan menjadi ikatan sehidup semati. Dan hanya maut yang bisa menceraikannya – Mat.19:6-9

d. Mutual love – kebersamaan dalam cinta

Maksudnya, suami istri harus menjaga semangat untuk saling mengasihi dalam segala situasi. Ini yang menjamin keberhasilan sebuah perkawinan!

  1. Perkawinan merupakan sesuatu yang serius karena keberhasilannya akan menghasilkan hal-hal yang indah

Sebuah perkawinan yang berhasil, akan membawa dampak keindahan dimana-mana.

a. Perkawinan yang sukses menciptakan sebuah rumah di mana ada rasa aman dan kasih sayang.

Dimana ada rasa aman dan kasih sayang maka disitu akan terdapat kebahagiaan!

b. Perkawinan yang sukses akan menyebabkan setiap orang yang terlibat di dalamnya (suami,istri, anak-anak) akan mengalami pertumbuhan potensinya secara maksimal!

Sebaliknya, perkawinan yang gagal akan menghancurkan setiap potensi yang dimiliki oleh anggota keluarga!

 Perkawinan yang sukses akan menghadirkan ”surga kecil” di dunia ini.

Karena perkawinan yang sukses akan menghasilkan kebahagiaan dan kepuasan bagi setiap anggota keluarga! Ini ibarat surga kecil di dunia yang penuh dengan penderitaan dan ketidakpuasan!

Kesimpulannya : Perkawinan adalah sesuatu yang sangat serius. Perkawinan yang berhasil ibarat ”surga kecil” di bumi ini, sebaliknya kalau gagal ibarat ”neraka penderitaan” di dunia ini! Oleh sebab itu dengan segala daya berusahalah untuk membuat perkawinan Anda berhasil!

SENI MENCINTAI

Eric Fromm – seorang Psikolog kenamaaan – pernah mengungkapkan pengamatannya demikian, ” Banyak orang melihat bahwa masalah utama tentang cinta adalah ‘untuk dicintai’ daripada ‘untuk mencintai.’ Oleh karena itu problem banyak orang adalah untuk dicintai, bagaimana agar mereka dapat dicintai.” Padahal menurut Eric Fromm, seharusnya kita belajar untuk mencintai dulu

Tidak ada pribadi yang sempurna, tetapi cinta yang sempurna bisa Anda bangun. Nah, untuk itu Anda harus pro aktif (memulai terlebih dahulu).

Mulailah dengan mencintai, tanpa mengharuskan pasangan Anda mencintai Anda lebih dahulu. Mulailah untuk berlaku penuh kasih, tanpa menuntutnya untuk berlaku lembut kepada Anda.

Pertanyaannya, bagaimana mencintai dengan tulus ? Perhatikan beberapa tips berikut ini :

  1. Mencintai itu berarti ada keperdulian

Cinta tidak bisa dilepaskan dari perhatian. Mencintai berarti juga memperhatikan/memperdulikan!

Martin Luther mengucapkan kalimat indah seperti ini, ”Jangan lihat apa kekurangan pasangan kita, tapi lihatlah apa yang kurang!

Artinya, daripada memperhatikan kekurangan (kelemahan) pasangan, lebih baik kita melihat “apa yang kurang” pada diri pasangan kita (misalnya : kurang rapi, kurang keren, kurang gaul), lalu kita penuhi kekurangan itu! Contoh, kalau suami kurang rapi – belikan suami cream rambut atau pilihkan pakaian yang rapi. Kalau suami kurang keren – dandani suami supaya terlihat keren. Atau kalau istri kurang putih – belian dia krim pemutih kulit.

Perduli berarti bersedia berbagi dan menyatakan diri pada pasangan tanpa rasa takut dan tanpa berpura-pura. Perduli juga berarti memiliki kerelaan memelihara diri orang yang dekat dengan kita. Memelihara disini lebih dari sekedar memberi proteksi (perlindungan) dan kecukupan kebutuhan fisik. Tetapi mampu memberikan rasa aman yang paling mendasar.

Memperdulikan berarti ada kemampuan untuk berkomunikasi, baik verbal (dengan kata-kata) maupun non-verbal (gestures/bahasa tubuh dan ekspresi suara).

  1. Mencintai berarti ada kesediaan untuk memberi

Cinta tidak bisa dilepaskan dari memberi. Mencintai berarti memberi! Ada ungkapan bijak, “Kita bisa memberi tanpa disertai rasa cinta. Tapi kita tidak bisa mencintai tanpa memberi!” We can give without loving, but we can’t love without giving.

Ukuran sejati cinta adalah dalam pemberian diri kita. Maksudnya : apakah kita memberikan diri kita sepenuhnya kepada pasangan kita ?

Yang dimaksud memberikan diri kita adalah :

  1. Memberikan hati kita – ini berbicara tentang kesetiaan (hanya memberikan hati pada pasangan).
  2. Memberikan tubuh kita – ini bicara tentang kekudusan kehidupan seksual (tidak memberikan tubuh pada orang lain).
  3. Memberikan tenaga kita – ini bicara tentang pelayanan kita pada pasangan.
  1. Mencintai berarti ada kesediaan bermain

Salah satu hakekat manusia adalah homo ludens (mahkluk yang bermain). Oleh sebab itu suami – istri juga harus mau bermain bersama (maksudnya menciptakan keceriaan bersama). Guyon dan saling menggelitik, pasti menambah kehangatan rumah tangga.

Bermain pada dasarnya adalah kesukaan diri yang penuh, baik dalam diri kita maupun teman kita dalam bermain. Misalnya, pada waktu Adam dan Hawa di Taman Eden, mereka bermain dan bercengkerama dengan bebas. Mereka bermain layaknya kanak-kanak sedang bermain tanpa memikirkan kepentingan pribadi.

  1. Mencintai berarti ada kerelaan untuk mengalah

Mengalah disini berarti mau mendahulukan kesenangan pasangan daripada kesenangan sendiri. Contohnya :

Waktu nonton TV – karena suami suka bola, maka kita mengalah tidak nonton sinetron dulu, demi kesenangan suami. Kemudian, dalam selera makan – walaupun kita senang ikan, tapi karena istri senang daging ayam, kita lebih sering masak daging ayam. Atau mengalah dalam hal berlibur. Meskipun kita senang gunung, tapi karena pasangan dan anak-anak suka laut kita bersedia mengalah demi kebahagiaan mereka.

Ingat mengalah bukan berarti kalah. Saat kita mengalah, pasangan kita tahu akan hal itu. Dilain kesempatan dia justru akan membalas “sikap ngalah “ kita dengan sikap lebih memperhatikan kita.

  1. Mencintai berarti tidak menuntut diluar batas kemampuan

Meminta sesuatu kepada pasagan, itu adalah hal yang baik dan normal.Tapi jangan menuntut sesuatu di luar batas kemampuannya. Banyak suami akhirnya korupsi karena istri permintaannya terlalu berlebihan! Banyak suami stress dan sakit-sakitan karena tidak mampu memenuhi permintaan istri. Sebaliknya, kalau istri mencukupkan diri dengan apa yang ada, hal itu justru mendorong suami untuk bekerja lebih keras dan menghasilkan lebih banyak lagi!

  1. Mencintai berarti ada kemauan untuk memaafkan

Mencintai tanpa kesediaan untuk memaafkan sama saja bohong. Manusia itu gudangnya kesalahan. Oleh sebab itu kalau kita mencintai seseorang berarti kita juga harus bisa memaafkan kesalahan- kesalahannya! Bagaimana cara memaafkan ?

  1. Maafkanlah, meskipun dia tidak meminta maaf

Diminta atau tidak, kita harus berani memaafkan. Ingat memaafkan itu menyembuhkan!

  1. Lupakanlah kesalahannya.

Memaafkan/mengampuni itu berarti melupakan. To forgive is to forget.

  1. Ingatlah kegembiraan yang dibawanya.

Agar bisa mudah memafkan, cobalah mengingat kegembiraan atau kebahagiaan yang dibawa oleh pasangan Anda! Pasangan yang bisa saling memaafkan dijamin langgeng bahagia!

  1. Mencintai berarti menerima perbedaan dengan lapang dada

Perbedaan adalah kehendak Allah. Karena dengan perbedaanlah ada keindahan. Namun perbedaan yang tidak disikapi secara dewasa justru sering menjadi pemicu keributan. Kalau kita mencintai pasangan kita, seharusnya kita bisa menerima perbedaan itu dengan lapang dada. Kita ambil contoh dalam hal-hal berikut ini :

  1. Perbedaan cara makan – yang satu suka pakai sendok, yang satunya pakai tangan.
  2. Kebiasaan tidur – yang satu harus cuci kaki dulu, yang satunya langsung molor.
  3. Kebiasaan pakai odol – yang satu mencet dari bawah, yang satu dari tengah.

Sebenarnya kalau direnungkan perbedaan itu membuat kita mau belajar tentang orang lain. Dan sikap ini seharusnya menimbulkan kerendahan hati!

Sebagai kalimat penutup kita bisa menyimpulkan : Untuk membangun rumah tangga yang harmonis-bahagia, diperlukan pengetahuan akan seni mencintai. Seni mencintai sendiri berawal dari sikap berani mencintai dulu, sebelum dicintai!

CINTA ADALAH…

Yang membuat sepasang kekasih akhirnya memutuskan untuk menikah adalah cinta/kasih.

Yang membuat pernikahan itu bisa selamat mengarungi kehidupan yang sulit adalah cinta/kasih.

Yang membuat keluarga itu akhirnya punya anak untuk melanjutkan keturunan adalah kasih!

Yang membuat pernikahan itu bertahan sampai akhir (maut memisahkan) adalah cinta/kasih.

Itulah sebabnya tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa cinta/kasih adalah dasar dan penopang pernikahan yang sehat!

Kali ini kita akan membahas seluk beluk cinta dengan memakai permainan huruf : mulai dari A sampai F.

A – Accept – menerima

Sebuah pernikahan akan menjadi pernikahan yang sehat kalau masing-masing pasangan mau menerima pasangannya sebagaimana adanya! Ini adalah dasar yang amat kokoh! Kasih yang tidak menuntut dan bisa menerima dengan rela keadaan pasangan. Berikut contohnya :

  1. Fisik : tidak ada orang yang sempurna.

Secara fisik pasangan kita pasti punya kekurangan : kurang tinggi, kurang putih, kurang mancung, kurang cakep, dan sebagainya. Tapi kalau kita bisa menerima dia apa adanya, maka pernikahan kita akan jauh dari pertengkaran dan konflik!

  1. Kepribadian : masing-masing kita berbeda.

Tidak ada orang yang sama persis kepribadiannya. Masing-masing kita berbeda. Yang satu disiplin, yang lain kurang disiplin. Yang satu hemat yang lain boros. Yang satu kalau ngomong keras, yang lain lembut.

Kita tidak bisa mengubah pasangan kita. Yang harus kita lakukan adalah berusaha menerima dia apa adanya. Ajaibnya, kalau ia kita terima apa adanya, maka justru dia bisa berubah!

B – Believe – percaya

Pernikahan akan langgeng dan harmonis kalau masing-masing pasangan bisa saling percaya.Tanpa saling percaya, maka akan terjadi banyak masalah, seperti cemburu buta; posessif dan curiga

Tapi dengan saling percaya, terbentuklah rasa saling cinta.

Kita percaya bahwa pasangan kita akan selalu setia, baik dan menghormati kita! Rasa percaya ibarat LEM, yang akan selalu merekatkan sebuah hubungan!

C – Care – perhatian/keperdulian

Pernikahan akan kuat dan saling membangun kalau ada keperdulian satu dengan lainnya. Perduli berarti ikut merasakan apa yang dirasakan pasangan dan memberi perhatian pada kesulitannya. Misalnya , saat istri istri sakit – ditunggui dan didoakan. Sebaliknya, kalau suami telat pulang – ditunggui dan disediakan air panas untuk mandi. Atau kalau suami belum pulang – ditelpon bagaimana kabarnya.

D – Desire – Menginginkan

Kasih yang sejati selalu menginginkan yang terbaik bagi yang dikasihi. Kasih itu selalu mau memberi dan bukan menerima. Ada banyak contoh tetang hal ini. Waktu masih pacaran, saat si doi ultah tapi kita tidak punya uang, kita mau meminjam uang sana sini agar bisa membelikan hadiah. Atau, orang tua rela melakukan apapun agar anaknya bisa sekolah ! Contoh lain lagi, istri rela bangun pagi-pagi untuk menyiapkan sarapan keluarga, karena ia mempunyai rasa cinta!

Ketika kita menginginkan yang terbaik bagi pasangan kita, maka kita akan melakukan yang terbaik buat dirinya!

E – Ease – meringankan

Artinya kehadiran kita seharusnya bisa meringankan beban dari pasangan kita! Misalnya, saat pasangan kita lagi sedih , kita yang menjadi penghiburnya. Kita bersedia menanggung beban kehidupan bersama-sama. Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul.

Cinta selalu membuat beban yang berat menjadi ringan.

Pokoknya, cinta seharusnya membuat hidup menjadi lebih mudah dan ringan. Semua beban dibagi dan ditanggung bersama!

F – forgive – mengampuni

Manusia adalah gudangnya kesalahan. Yang sempurna dan tidak pernah salah hanya Tuhan. Oleh sebab itu manusia selalu membutuhkan pengampunan/maaf! Ambil contoh:

Salah omong – maksudnya baik, tapi nada suaranya tinggi.sudah bisa memicu konflik.

Salah tindakan – disadari atau tidak ada saja tindakan kita yang salah.

Kata maaf inilah yang akan membuat langgeng sebuah keluarga. Tanpa saling mengampuni, pernikahan akan kandas, sebab setiap hari ada saja kesalahan yang dibuat masing-masing pasangan!